Minggu, 27 April 2014

BELAJAR MENDONGENG BARENG KAK AWAM PRAKOSO







By: Futicha Turisqoh


Minggu, 23 Desember 2012 pk. 08.00 – 12.00 WIB di Gedung Rakyat Slawi, tepatnya di Jl. Dr. Sutomo No. 8 Slawi Kabupaten Tegal, peserta acara Workshop Teknik Mendongeng dengan tema “Mendongeng Itu Asik dan Menyenangkan” bersama Kak Awam Prakoso sudah berjubel menanti aksi Kak Awam mendongeng. Acara yang diselenggarakan oleh Kampoeng Dongeng (KADO) Poci Tegal yang diprakarsai Kak Tedi Kartino, pendongeng dari Kota Tegal bekerjasama dengan Biolysin, Laziz Tegal Jateng, dan BMT BUM ini baru pertama kali digelar, dan peserta yang sebagian besar para guru PAUD, TK, TPQ, SD, bahkan mahasiswa sangat antusias mengikuti jalannya acara hingga selesai. Menjelang pukul 09.00 WIB ratusan peserta workshop makin membludak memenuhi aula hingga banyak yang tidak kebagian kursi. Akhirnya mereka dipersilakan panitia untuk duduk di lantai paling depan.

Kak Awam yang memiliki nama lengkap Mohammad Awam Prakoso ini merupakan pendongeng nasional, penulis buku 25 cerita Kampung Dongeng, sekaligus Ketua Pembina Kampoeng Dongeng Indonesia. Lahir di Blora Jawa Tengah, dan dibesarkan di Jogjakarta. Mendirikan sanggar yang bernama “Cinta Rasul”. Ia juga mendirikan Kampung Dongeng Istana Yatim, dimana Kampung Dongeng berisi aneka aktivitas yang memacu kreativitas anak..

Kak Awam membawakan acara demikian menarik, hingga tak ada satupun peserta yang beranjak dari tempat duduknya untuk meninggalkan acara. Aksi Kak Awam yang lucu dan menyenangkan, membuat peserta workshop tertawa terpingkal-pingkal .

Menurut Kak Awam, dunia dongeng adalah dunia anak yang sangat menakjubkan, karena ternyata dongeng mampu memberi pesan-pesan mulia dan menumbuhkan kecerdasan emosional, merupakan media yang sangat optimal untuk menanamkan akhlakul karimah, serta mampu menangani situasi dan kondisi anak-anak. Menurutnya, mendidik anak merupakan proses yang tak mengenal istilah selesai. Maka mendongeng sebagai media mendidik anak, merupakan media paling ampuh yang mampu mengatasi anak. Sebagai contoh, saat anak menangis, segera tirukan suara binatang seperti suara kucing, nanti anak langsung diam, bahkan si anak mungkin akan mencari sumber suara. Jikaa anak masih saja menangis, segera ambil boneka dan praktekkan mendongeng. Kita bercerita sampai anak berhenti menangis. Jika kita berhasil membuat anak bisa berhenti menangis, itu adalah kebahagiaan luar biasa.

Dongeng mampu menangani keadaan-keadaan tertentu, cuma kadang-kadang orangtua dalam menangani anak dengan komunikasi yang tak baik, seperti melarang memanjat dan lain-lain. Dongeng juga merupakan media pembelajaran banyak hal. Termasuk pembelajaran matematika, bahasa, tata surya, sains, dan lain-lain.

Banyak alasan, kenapa guru tidak rajin mendongeng, karena tidak bisa, tidak percaya diri, tidak ada suaranya, tidak punya materi cerita, malu menirukan suara binatang, dan lain-lain, meski pada hakikatnya naluri manusia adalah suka bercerita. Hanya persoalannya: mereka pandai bercerita pada orang lain, tapi tidak pandai bercerita depan anak-anak.

Menurut Kak Awam, mendongeng auditorinya lebih kuat daripada membaca, dan lingkungan di sekitar kita adalah media cerita. Banyak materi yang bisa dijadikan cerita, seperti suara motor yang lewat, suara mobil ambulance yang bisa diceritakan. Mengarang cerita dengan mendongeng bukanlah bohong, tapi merekayasa cerita, seperti suara pesawat atau helicopter, apapun bisa dikreasikan untuk menjadi cerita yang dahsyat untuk anak-anak, tergantung guru atau orangtua yang bisa melakukan pendampingan kepada anak. Anak-anak butuh komunikasi.

Jika ada guru yang tidak pede saat mendongeng, itu karena dia tidak menguasai materi. Yang perlu diingat: ketika guru menulis, tulislah apa yang ditulis anak. Ketika guru membaca, bacalah apa yang dibaca anak. Jadi guru harus mengikuti anak, sebagaimana Rasulullah sering membiarkan cucunya naik di punggungnya ketika sedang shalat.

Fabel, hikayat, mitos, legenda, bisa dijadikan dongeng, sebab dongeng adalah hasil rekayasa imajinatif dari cerita sederhana dan tidak benar-benar terjadi atau tidak nyata, untuk memberikan pesan yang baik.

Jika kita mendongeng dan anak-anak senang, itu karena ada urutan-urutannya, sebagaimana kalau kita mau menyajikan hidangan leat untuk suami, carilah bahan yang segar yang kemudian disiapkan, lalu diolah sedemikian rupa, dilakukan dengan penuh cinta, lalu disajikan beserta bunga. Indah sekali bukan? Begitu juga dengan cerita, naskah harus sudah disiapkan. Selain itu, cerita harus terbebas dari hal-hal negative, seperti tahayul, kekerasan, pornografi, pornoaksi, dan kecengengan. Contoh cerita negatif, seperti cerita Sinchan yang penuh dengan kata-kata yang tidak baik. Masa anak-anak adalah masa-masa paradigma, yang jika tidak diarahkan, maka anak-anak akan mudah terpengaruh. Jadi naskah cerita harus baik. Contoh: cerita pangeran yang tidak takut pada raksasa.

Untuk usia 0 – 4 tahun ceritanya lebih berpetualangan, jenaka/lucu, agar tidak bosan, sebab ia sudah bisa berpendapat baik dan tidaknya.

Visual itu lebih mendominasi anak. Siapa kompetitor kita? Yaitu visual. Cerita harus menyesuaikan keadaan. Cerita harus disesuaikan, seperti saat hari ibu, ceritakan tentang kasih sayang ibu. Durasi waktu jangan terlalu lama. Orang dewasa durasi 7 menit, tapi membawakannnya bisa 1 jam, seperti ayam berkokok membangunkan orang dan seterusnya dan seterusnya.

Mendongeng bisa juga dengan alat peraga, seperti boneka dan lain-lain. Jika mendongeng dengan boneka, yang divisualisasikan dengan boneka.Tugas kita sebagai penutur cerita harus bisa menghidupkan visual kita.

Memahami dan menghafalkan cerita

Seorang guru itu ketika membaca cerita menjadi murid pertama yang mendengar cerita. Sebisa mungkin harus ngaca dulu, sebagai cara menilai cara kita bercerita/mendongeng. Siapkan juga tempat bercerita yang nyaman bagi anak. Tidak harus di kelas, bisa di bawah pohon atau di taman bunga.

Menciptakan suasana keakraban

Ciptakan suasana akrab sebelum bercereita:
1. Teknik mencari perhatian
2. Aksi yang mengesankan
3. Tebak-tebakan yang segar
Cara mengkondisikan anak yang ribut: Mana suaramu? Ini suaraku!
Kita harus caper (cari perhatian) pada anak, sehingga ketika muncul kelucuan, aksi kita jadi mengesankan. Visual mendominasi

Tebak-Tebakan

Siapa orang yang di depan?
Kak Awam!

Bak tebak siapakah aku?
Aku adalah buah-buahan.
Bentuknya bulat banyak durinya.
Siapa aku?
Durian!


Terdengar suara adzan tanda panggilan sholat.
Tundalah kegiatan
Terdengar suara iqomat sholat kan dimulai.
Tunduk pada illahi.
Ikhlaskan dalam hati …


Jadi, buka dengan nyanyian, lalu dilanjutkan dengan cerita.

Allah Maha Pengasih, tak pernah pilih kasih.
Allah Maha Penyayang, sayangnya tak terbilang.
Allah Maha Tahu tanpa diberitahu.


Ini cara melatih anak yang auditoris, visualis, dan kinestetik.

Teknik/metode mendongeng tanpa alat peraga.

Pengaturan posisi: seperti melingkar. Badan sedikit membungkuk, karena anak-anak ada di depan. Pasang senyum. Powernya jelas dan kuat. Suara keras. Jangan cerita sambil jal;an, sebab nanti anak-anak bisa tengok kanan kiri mengikuti gerakan si pencerita yang akhirnya anak-anak bisa menguap dan tertidur. Ketika berpindah disebut moving. Serukan: Anak-anak….! Siap??!
Tenang saja, tidak usah terburu-buru. Bisa improvisasi (menambah-nambahi sesuatu yang terlupa yang akhirnya ketemu). Jangan bungkus cerita dengan sindiran, seperti ketika melihat anak yang naik meja dengan ucapan: “Bu Guru mau cerita dengan judul Budi Suka Naik Meja.” Jangan khotbah depan anak.

Anak yang kinestetik, yang suka berlari-lari, jika ditanya, menjawabnya pun sambil berlari. Jadi kita harus memahami karakter anak saat bercerita.

Cara agar tidak malu mengeluarkan suara binatang: kita harus sering keliling di lingkungan anak-anak.

Mendongeng dengan membaca buku, gimana caranya? Posisi buku di sebelah kiri, jangan di kanan. Kalau untuk anak PAUD gambarnya harus besar, kalau perlu tidak usah ada tulisannya. Buka halaman buku harus pelan-pelan. Read story stelling berbeda dengan mendongeng.

Beberapa cara, kiat dan tips mendongeng diajarkan Kak Awam. Sangat inspiratif dan menarik sekali, yang sayang jika dilewatkan. Para peserta pun merasa puas dan bisa mengambil manfaat dari dongeng yang dicontohkan Kak Awam.

Pesan terakhir dari Kak Awam: “Janganlah berharap untuk berhasil menyajikan cerita dengan baik di hadapan anak-anak didik kita, apabila kita tidak dengan sungguh-sungguh melakukan latihan yang serius. Jangan pula berharap untuk berhasil menyajikan cerita dengan sukses, apabila kita tidak total dan masih malu-malu. Dan jangan pula berharap untuk berhasil menyajikan cerita dengan hebat, apabila kita tidak sering-sering mencoba untuk terus tampil. Ingatlah, bahwa bercerita itu salah satu bagian dari ketrampilan mengajar. Untuk itu, selamat untuk berbagi cerita untuk anak-anak didik kita, dan sukses menyertai kita semua!”




*****


















 

Sabtu, 26 April 2014

PENDIDIKAN KARAKTER ITU PENTING


By: Futicha Turisqoh

Kurikulum terbaru yang ada kini adalah pendidikan yang berkarakter, yang akan memacu kecerdasan intelektual pada peserta didik. Akan ada program seminar tiap semester atau paling tidak setahun sekali di TK/MI Miftahul Ulum Gumayun, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Ketua Yayasan Miftahul Ulum Gumayun, Bp. Akhmad Salim, SE pada acara Seminar Pendidikan dengan tema “Peran Orangtua dalam Peningkatan Mutu Pendidikan yang Berkarakter” di Kampus KB – TK/MI Miftahul Ulum Gumayun, Senin, 17 Juni 2013 lalu.
Narasumber di acara seminar tersebut Drs. Ahmad Zahid, M. Pd. Beliau mengingatkan peserta seminar yang dihadiri oleh wali murid TK-MI Miftahul Ulum Gumayun agar meniatkan kehadirannya untuk mendapatkan ilmu dan ridho dari Allah SWT.
Apa itu karakter? Banyaknya tawuran, geng motor, pengguna narkoba, maraknya keping CD porno, generasi tua yang masih suka minum-minuman, korupsi, remaja merokok, main kartu, main suap, demo/unjuk rasa, dan lain-lain merupakan karakter anak Bangsa yang jauh dari harapan Bangsa itu sendiri. Lalu, bagaimana cara merubah karakter anak menjadi positif? Pertanyaan inilah yang membuat pemerintah mencoba  dengan membuat kurikulum pendidikan barkarakter di tahun 2013.
Beliau mengamati perbedaan sistem pendidikan organisasi Muhammadiyah dengan NU. Menurutnya, Muhammadiyah lebih condong kepada kerjasamanya, sedangkan NU lebih condong kepada kekeluargaannnya. Keduanya sama baiknya.
Banyaknya orangtua siswa yang hanya mengandalkan pendidikan putra-putrinya kepada beberapa guru dan satu kepala sekolah, apa itu adil dan fair? Sama sekali tidak! Bagaimanapun orangtua tetap punya andil penting dalam mendidik anak. Guru hanya bisa mendidik murid-muridnya di sekolah, selebihnya orangtualah yang punya banyak waktu di rumah untuk anak-anaknya. Waktu yang tersisa itulah yang seharusnya dimanfaatkan sebaik mungkin oleh para orangtua untuk mendidik anak, terutama pendidikan karakter pada anak.
Anak yang suka tawuran merupakan cerminan kurangnya pendidikan anak di rumah. Untuk mengantisipasi hal itu, tugas orangtua yang utama adalah memberi nama anak yang baik, nama yang mengandung doa, kemudian memperbagus akhlak anak, mengajarinya tulis baca, berenang, memanah, dan tidak memberinya makanan kecuali yang halal dan baik, lalu menikahkannya jika ketemu jodoh. (HR. Al-Hakim)
Ada beberapa pertanyaan yang dilontarkan guru dan orangtua murid pada acara seminar tersebut, di antaranya:
1.      Apakah pendidikan karakter bisa dirubah? Sebab ada yang berpendapat, bahwa karakter/watak seseorang itu tidak bisa dirubah, karena sudah mengakar pada diri seseorang.
Jawaban:
Pendidikan karakter bisa dirubah. Ada kisah, di Thailand tadinya tidak ada buah durian. Durian montong itu lebih besar dari durian-durian yang ada. Adanya durian montong karena ada budidaya. Disemaikan dulu, diberi pupuk, dan dipelihara dengan baik, sehingga ketika sudah berbuah menjadi durian yang enak.
Kurikulum berkarakter punya gambaran seperti itu. RPP dan lain-lain sudah ada skenarionya. Karakter bisa dirubah! Jangankan gen, yang lainpun bisa dirubah. Sebenarnya tidak hilang watak/karakter jelek itu, tapi yang ada: bagaimana cara memunculkan yang baik, agar yang jelek-jelek itu bisa hilang. Untuk itu perlu ada pembiasaan. Pembiasaan-pembiasaan buruk saaat kita kecil akan memunculkan sifat individual. Yakinkan, bahwa karakter anak itu bisa berubah. So, kuatkan pembiasaan! Seperti kebiasaan berdoa, bersedekah, sholat, ngaji, dan lain-lain.
2.      Disebutkan pada kisah seorang Johannes yang bisa mendidik seorang anak yang paling tidak bisa menjadi bisa hingga diikutkan pada olympiade dan berhasil memenangkannya, ini merupakan kisah yang menginspirasi kita, bahwa sebenarnya merubah seseorang dari gak bisa menjadi bisa, bisa kita lakukan. Pertanyaannya: adakah contoh lain dari kisah itu? Terutama kisah dari seorang muslim, bukan dari non muslim.
Jawaban:
Kisah muslim banyak, tapi mengambil kisah Johannnes yang non muslim karena kisah itu bisa menggugah kita untuk bisa merubah sesuatu yang mustahil menjadi tidak mustahil. Seperti kisah Imam Juhairi yang anaknya disusui orang lain, padahal sudah ada pesan jangan menyusui anaknya selain ibu kandungnya sendiri. Maka setelah Beliau mengetahuinya, dengan spontan beliau membersihkan perut anaknya dengan cara memuntahkannya, yang akhirnya setelah besar anak tersebutpun menjadi imam.
3.      Dari kisah-kisah yang ada, seperti adanya tawuran, pecandu narkoba, remaja yang merokok, yang mengindikasi orangtua yang tidak berhasil mendidik anak. Lalu, bagaimana dengan fenomena-fenomena yang ada, dimana orangtua atau lingkungan keluarga sudah mendidik sedemikian rupa, namun si anak ternyata hanya manis di depan orangtua, sementara di belakang orangtua sikapnya berandalan atau tidak mencerminkan anak yang sholih. Jadi kesimpulannya, perilaku negatif anak tidak mutlak kesalahan orangtua/keluarga, tapi bisa juga dari faktor lingkungan, bisa dari lingkungan sekolah, atau bisa juga dari pergaulan di lingkungan luar sekolah. Apa solusinya, supaya anak bisa terdidik dengan baik, meskipun di lingkungannnya tidak kondusif?
Jawaban:
Islam memerintahkan kita untuk pandai memilih teman. Ketika anak di rumah atau di sekolah, pastikan anak berteman dengan siapa, supaya kita sebagai orangtua tidak kecolongan.
4.      Sebagai seorang pendidik PAUD, adakah trik-trik jitu untuk merubah karakter anak menjadi baik, seperti anak yang masih manja menjadi mandiri, yang masih suka berantem menjadi anak baik, anak yang malas menjadi rajin? Sebab, kadang kita sebagai guru sudah berusaha merubahnya meski mungkin belum maksimal, tapi si anak masih saja pada karakter awal, kalaupun berubah, hanya seberapa persen saja.
Jawaban:
Intinya adalah: kesabaran. Pupuk kesabaran mendidik anak lebih tinggi lagi. ^_^


Senin, 18 November 2013

TILAWAH QURAN MENJADI KEBUTUHAN



Tilawah quran menjadi program mingguan  di TK islam Miftahul Ulum Gumayun. “Ini penting, karena visi misi TK kita adalah terbentuknya siswa yang berakhlakul karimah, untuk itu harus dimulai dari guru-gurunya terlebih dahulu, yang membiasakan rajin membaca al-Quran, agar siswa juga meniru apa yang dilakukan guru” kata Kepsek TK Islam Miftahul Ulum Gumayun.
Setiap hari Jumat dewan guru beserta kepsek bergiliran membaca ayat-ayat dari al-Quran di aula TK hingga menjelang waktu sholat dhuhur. Dan setiap sebulan sekali, di hari Sabtu diadakan khataman Quran, dimana masing-masing guru membaca 2-3 juz alquran sampai semua surat dalam al-Quran selesai dibacakan.

Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh semua guru dengan senang hati tanpa beban, bahkan sudah menjadi semacam kebutuhan. Itu semua karena mereka sudah dibekali pengetahuan tentang arti pentingnya membaca al-Quran dalam kehidupan sehari-hari, bahwa tanggung jawab seorang muslim berkaitan dengan al Quran yang paling pertama adalah membacanya, tentu karena al Quran berbahasa arab, maka seseorang dituntut untuk mampu membaca kata-demi kata, kalimat demi kalimat dalam bahasa arab atau ‘melek huruf’ al Quran. Membaca al Quran yang seperti ini merupakan pemaknaan dari bahasa aslinya yaitu tilawah al Quran. Isyarat pentingnya tilawah al Quran ditegaskan oleh al Quran itu sendiri yaitu pada QS. Al Baqarah : 121, QS. Fathir 29 dan beberapa ayat di tempat lainnya yang mengindikasikan pentingnya tilawah yang pada umumnya diawali dengan kata perintah atau pujian pada orang-orang yang melaksanakannya.

Menurut Ade Hanapi Abu Raudha , kata tilawah merupakan bentuk ‘mashdar’ atau kata sifat yang terbentuk dari kata kerja dasar ‘talaa (kata kerja bentuk lampau/kkbl) -yatluu’ (kata kerja bentuk sekarang/kkbs). Dalam bentuk jamak berarti ‘talau’ atau ‘yatluuna’. Sedangkan dalam kata perintah biasanya di baca ‘utluu’ atau jika dahului wawu menjadi ‘watluu’.
Pada QS. Al Baqarah : 121 Allah swt berfirman :
Al Baqarah 121
Orang-orang yang Kami datangkan al-kitab kepadanya, mereka membacanya dengan sebenar-benar bacaan, merekalah yang beriman kepadanya dan barang siapa mengingkarinya maka mereka termasuk orang-orang merugi” (QS Al Baqarah : 121)
Menurut ayat tersebut, bahwa mereka yang membaca kitab Allah, Al Quran dengan ‘haqqa tilawah’ yang menurut sebagian mufassir adalah maknanya membaca dengan sebenar-benar bacaan sebagaimana ketika ia diturunkannya (orisinalitas tertinggi) maka hal tersebut merupakan bukti keimanan kepada kitab tersebut. Jika tidak melakukannya maka termasuk mereka yang mengingkarinya dan menjadi orang-orang yang merugi dan binasa di akhirat nanti. Maka pemaknaan ayat tersebut mengindikasikan pentingnya setiap muslim untuk ‘tilawah al Quran’.

Adapun kata yang mengisyaratkan ‘membacanya’ pada ayat di atas yaitu ‘yatluunahu’ yang merupakan kata dasar dari ‘tilawah’ dalam bentuk jamak dari kkbs yang mengisyarakatkan perbuatan sedang, terus menerus atau berkesinambungan (rutin). Dengan demikian, tilawah al Quran harus dilakukan secara terus menerus, rutin dan berkesinambungan sebagaimana diisyaratkan oleh Rasulullah saw agar setiap muslim mampu mengkhatamkan bacaan al Quran pada setiap bulannya.

Makna Tilawah al Quran

Merujuk pada penggunaan kata dasarnya, tilawah pada awalnya bermakna ‘mengikuti’ sebagaimana dalam QS. Asysyams, Allah swt berfirman : Ash-Shams 1
ash syams 2
“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringi (mengikuti) nya” (QS. Assyams: 1-2)

Sinonim kata pada bahasa arab untuk makna tilawah adalah ‘tabi’a-yatba’u yang artinya sama yaitu mengikuti. Mengapa maknanya menjadi membaca? Makna tilawah menjadi membaca memiliki filosofi tersendiri. Jika kembali kepada arti asal katanya maka maksudnya adalah sebagai berikut :
1.     Mengikuti setiap huruf-demi huruf dengan segala tuntutan kesempurnaannya sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, ini berarti membaca itu haruslah dengan benar sesuai dengan orisinalitas bacaan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, dipraktikkan sahabatnya dan dipelihara oleh para pengikut sunnahnya yang setia.
2.    Mengikuti apa yang dibaca baik perintah dan larangan serta instruksi-instruksi keimanan dengan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari sehingga nilai-nilai petunjuk al Quran menjadi aplikatif dalam kehidupan.
3.    Pengamalan tidak akan dapat tercapai kalau instruksi al Quran  tidak dipahami oleh karena itu bacaan petunjuk itu agar dapat aplikatif dalam kehidupan maka menuntut pemahaman.

Dengan demikian, makna tilawah bukan sekedar membaca tetapi membaca al Quran itu harus sempurna sesuai dengan contohnya (Tahsin), dipahami (Tafhim) dan diaplikasikan dalam kehidupan (Tabligh). Tentunya aktivitas ini harus dilaksanakan secara rutin, berkala dan berkesinambungan. Apabila cara seperti ini telah diaplikasikan oleh setiap muslim, maka mereka lah yang telah melaksanakan tilawah al Quran dalam pengertian yang sebenarnya. Wallahu a’lam.

Karena pemahaman itulah, mereka para guru tidak ada yang mengeluh apalagi protes/complain dengan diadakannya kegiatan tersebut. Semua happy-happy saja melakukannya. Mudah-mudahan kegiatan ini menjadi tradisi untuk generasi mendatang. Amin ^_^








Jumat, 15 November 2013

MENYANTUNI ANAK YATIM







Jumat, 15 November 2013 pk. 09.00 WIB, TK/MI Miftahul Ulum Gumayun Kabupaten Tegal mengadakan Santunan Anak Yatim. Para wali murid mengumpulkan infaq khusus untuk anak yatim yang belajar di TK maupun MI Miftahul Ulum Gumayun, dimana program ini adalah program tahunan TK/MI  Miftahul Ulum yang bertujuan untuk memperingati  Hari Besar Anak Yatim pada tanggal 10 Muharom sekaligus memperingati Tahun Baru Islam.


Tahun ini terkumpul infaq sebesar Rp 1.150.000,- dan dibagikan kepada 5 anak yatim, di antaranya: Wildan, Atiqoh, Dana, dan Nur yang merupakan siswa MI Miftahul Ulum Gumayun, serta Opik dari TK Islam Miftahul  Ulum Gumayun. Selain uang yang diberikan, juga alat-alat tulis untuk memotivasi mereka giat belajar. Kami bersyukur dengan diselenggarakannya acara tersebut, setidaknya masih ada kepedulian dari sekolah kepada siswa, terutama kepada anak-anak yatim. Mudah-mudahan acara ini tetap berjalan dengan baik di tiap tahunnya, amin …. ^_^


Allah swt berfirman di dalam Q.S An Nisaa 6 : 6 yang artinya sebagai berikut, “ Dan janganlah kamu memakan harta anak yatim lebih dari kepatutan dan ( janganlah kamu ) tergesa-gesa ( membelanjakannya ) sebelum mereka dewasa. Barang siapa ( di antara pemelihara itu ) mampu, maka hendaklah ia menahan diri ( dari memakan harta anak yatim itu ) dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia memakan harta itu menurut yang patut . Kemudian apabila kamumenyerahkan harta kpd mereka,maka hendaklah kamu adakansaksi-saksi (tentang penyerahanitu)bagimereka.Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu ) “.


Menurut Ibnu Jauzi penafsiran ayat di atas ada 4 cara yaitu:

1.      Mengambil harta anak yatim dengan cara kiradl ;
2.      Boleh memakan harta anak yatim, hanya untuk memenuhi kebutuhannya, tidak berlebih-lebihan ;
3.      Boleh mengambil harta anak yatim hanya sekedar sebagai imbalan saja karena mengurusi anak yatim ;
4.      Boleh memakan harta anak yatim apabila keadaan terpaksa. Kemudian apabila telah mampu maka harus mengembalikannya, apabila benar-benar tidak mampu, maka hal itu halal baginya.


Rasulullah saw bersabda, “ Barangsiapa yang menanggung makan dan minum ( memelihara ) anak yatim dari orang Islam, sampai Allah swt mengharuskan ia masuk surga-Nya kecuali dia melakukan dosa yng tidak terampunkan ( HR Tarmudzi ).


Jadi Allah akan menjamin memberikan surga kepada siapapun yang mau memelihara, mengurus, memperhatikan anak-anak yatim, kecuali dosa yang tidak terampunkan ( misalnya syirik )


Allah swt berfirman di dalam Q.S Al Baqarah 2 : 220 yang artinya sebagai berikut , “ Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah : “ Mengurus urusan mereka secara patut adalah lebih baik, dan jika kamu bergaul secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu, dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Bijaksana “